Langsung ke konten utama

NEGERI SENJA

Bagaimana menjawab ajakanmu ke pantai, Dinda
Negeri ini sedang berdarah, kecamuk kelompok
sedang meraja, dan tahukah kau apa yang tak bisa
kutepis? Cintaku kepada senja atau ajakanmu
untuk pulang, sekedar mengintip matahari turun
di balik bukit barisan, bukan cuma laut memerah
Atau anak-anak muda yang pulang berselancar

Tapi, sungguh: aku orang yang tak bisa menolak
Apalagi padamu yang gelayutan di tangkai jiwa
Memaku juga aku di sini, menuliskan puisi negeri
Tentang laut menghempaskan ombak ke batu-batu
Sementara pasir tetap setia mengisap keluhnya
bagai disisanmu merangkum puncak kasih-sayang
selepas menikmati langit yang merah..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUDA-KUDA YANG MENARI

Kuda belang, kudaya belang, melompat dan melayang, dikipasnya wangi parfum surga, langit terbelah dan malaikat menari Tak pernah ada tarian sesakral itu: suara bansi, patuah dan petatah-petitih pun beralih-alih suara Kuda belang, kuda yang mengangkang ringkikkan kemerdekaan: seniman merdeka, “merdekakah?”, seniman setia, “setiakah?” ow, tanya jantungmu: tanya, tanya, tanya? Tanya jantung, jantung, jantungmu jantan!