Langsung ke konten utama

SEJARAH

Dukamu tercecer sudah oleh jengking kereta
yang melengking membunuh habis lamunan
Tempat sembunyi para dewa

Bersamaku dukamu lebur jadi cahaya, tercatat
di tugu-tugu kota: wajahnya tujuh bidadari..

Di jiwaku, dukamu raib: persis percintaan
yang tak mampu ditafsirkan sejarah, kelam
cahaya hidup, menyinari keabadian perantauan


Solo, 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUDA-KUDA YANG MENARI

Kuda belang, kudaya belang, melompat dan melayang, dikipasnya wangi parfum surga, langit terbelah dan malaikat menari Tak pernah ada tarian sesakral itu: suara bansi, patuah dan petatah-petitih pun beralih-alih suara Kuda belang, kuda yang mengangkang ringkikkan kemerdekaan: seniman merdeka, “merdekakah?”, seniman setia, “setiakah?” ow, tanya jantungmu: tanya, tanya, tanya? Tanya jantung, jantung, jantungmu jantan!