Langsung ke konten utama

EKSEKUSI

Igauan burung-burung berkelebat menebas
angkasa raya. Memancarkan kilat di kegelapan asap
udara yang kental, buas bagai paruh-paruh lapar
Sementara di hutan masih saja terdengar pohon
Tumbang: berdetak dan berdebum meski telah
teramat jauh mereka terbang

Sayatan jiwa silih berganti, rumah-rumah mereka
rata dengan tanah, seiring raung dan sorai penguasa
“akan ke manakah kita?”
ucap suara ditingkahi kepak yang kian lelah
“jangan tanya, kita dipaksa kembali pada sebab,
bukankah kerinduan hal tak pasti?”

Igauan burung kian mengisak, tangis mereka menelorkan
hujan lebat, air yang mencurah dari angkasa jatuh
bagai batu-batu ke lembah-lembah tak bernama
ke bukit-bukit asing, ke sungai-sungai entah, mengalirkan
darah ke muara dendam

Angkasa penuh burung beragam jenis, kepaknya
membelah sunyi dengan suara yang mengerikan: malam
lari ke pangkal, dan kita menyaksikan burung-burung
meninggalkan buminya sendiri dalam mimpi yang tak putus
Karena mereka tak mungkin membuat rumah
di puncak-puncak beton, penangkal petir, apalagi


di pohon-pohon plastik yang menjamur di jalanan kota

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUDA-KUDA YANG MENARI

Kuda belang, kudaya belang, melompat dan melayang, dikipasnya wangi parfum surga, langit terbelah dan malaikat menari Tak pernah ada tarian sesakral itu: suara bansi, patuah dan petatah-petitih pun beralih-alih suara Kuda belang, kuda yang mengangkang ringkikkan kemerdekaan: seniman merdeka, “merdekakah?”, seniman setia, “setiakah?” ow, tanya jantungmu: tanya, tanya, tanya? Tanya jantung, jantung, jantungmu jantan!