Langsung ke konten utama

DALAM LELAH API MEMBAKAR MATANYA

Mengingat ucapannya, selalu ada yang berdesir
menggetarkan pokok-pokok mahoni, daun-daun
gugur dalam lembab batuknya
“Seni adalah nafas yang tak putus di tali nurani..”
Dan orang-orang ingin berdiam di bola matanya

Mengenang resahnya, selalu ada yang bergemuruh
mengantarkan ucapan selamat, lepas dan jabat kian
memekarkan degup cinta dari jantungnya yang lapar
“Setiap saat kita didatangi kerinduan..”, ucapnya
Kita pun menginginkan sosok yang berdiam
di matanya

Mengenang syairnya, selalu saja kita terpikat
untuk menerjemahkan bulir kelelahan
karena dalam lelah api membakar-bakar matanya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUDA-KUDA YANG MENARI

Kuda belang, kudaya belang, melompat dan melayang, dikipasnya wangi parfum surga, langit terbelah dan malaikat menari Tak pernah ada tarian sesakral itu: suara bansi, patuah dan petatah-petitih pun beralih-alih suara Kuda belang, kuda yang mengangkang ringkikkan kemerdekaan: seniman merdeka, “merdekakah?”, seniman setia, “setiakah?” ow, tanya jantungmu: tanya, tanya, tanya? Tanya jantung, jantung, jantungmu jantan!