Langsung ke konten utama

Postingan

JALAN LURUS

Hiduplah perantauan, ragam warna, ragam kitab Mikrofon diperebutkan: kitalah yang selalu menyimpan desa dan kota pada sebuah hati yang kecil, menerjemahkan halal dan haram Kedudukan mesti diperbaharui... Mengenang hidup, betapa pun wajib merelakan kematian, membawa sejinjing amal dan sejemput harapan: mengenang mati, betapa pun besar harga ternyata semisal atom, mengolah mimpi tafakkur Alangkah dalamnya tujuh lapis petala bumi alangkah jauhnya tujuh lapis petala langit bagaimana menembus dan menulangnya? Semestinya rantau bunga kasih berpupuk harap dan kumbang terbang pada siang dan malam jadilah kunang-kunang meski hinggap tak membakar

PERANG YANG PALING KALAH

Sesaat lagi, mungkin dalam waktu dekat bakal tercipta pertarungan antara kita Jangan salahkan siapa-siapa karena rumah yang kita diami telah berubah rimba Hutannya mengajarkan hidup saling buas untuk menyelamatkan diri sendiri menyusuri sungai di deras berlainan

NEGERI SENJA

Bagaimana menjawab ajakanmu ke pantai, Dinda Negeri ini sedang berdarah, kecamuk kelompok sedang meraja, dan tahukah kau apa yang tak bisa kutepis? Cintaku kepada senja atau ajakanmu untuk pulang, sekedar mengintip matahari turun di balik bukit barisan, bukan cuma laut memerah Atau anak-anak muda yang pulang berselancar

EKSEKUSI

Igauan burung-burung berkelebat menebas angkasa raya. Memancarkan kilat di kegelapan asap udara yang kental, buas bagai paruh-paruh lapar Sementara di hutan masih saja terdengar pohon Tumbang: berdetak dan berdebum meski telah teramat jauh mereka terbang